Blog yang berisi buah pikiran seorang Juru Bahasa yang sedang belajar menulis.

Antara cita-cita dan realita – Tersenyum dalam kepahitan (part 1)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apa kabar rekan-rekan?
Alhamdulillah kita sudah memasuki bulan Juli, tentunya akan banyak sekali kejutan-kejutan yang akan menunggu kita, mudah-mudahan kita semua selalu diberi keselamatan dan kelancaran dalam setiap aktivitas, tetap semangat ya gays eh guys!

Hari ini saya ingin mengajak rekan-rekan untuk bercerita tentang cita-cita.
Dulu kan ada tuh lagunya Susan ft Ria Enes (ketauan banget jadulnya…..) yang judulnya “Cita-citaku”.

Cita-citaku…. Ingin menjadi dokter
Cita-citaku…. Ingin jadi insinyur (orang sekarang lebih kenal istilah “engineer”)
Cita-citaku…. Ingin jadi polisi


Dsb (dan saya bingung)

Waktu kecil kayanya kita bisa dengan mudah menjawab pertanyaan “Nak, kamu cita-citanya apa?”.
Jawabannya ya tentu saja beragam, bahkan ada juga anak yang milih cita-citanya karena terpengaruh film kesukaannya, misalnya POWER RANGER, jadi begitu ditanya “mau jadi apa”, dia (aing) jawab “SAYA MAU JADI POWER RANGER!!!”.

Apakah itu aneh?
Ngga kok, itu wajar banget.

Nah, coba sekarang tanya pertanyaan itu ke diri kita di masa kini, diri kita yang sudah dewasa, atau usia sekolah, SMA/Kuliah lah, kira-kira bisa jawab spontan kaya waktu kecil ngga?

Saya yakin pasti ngga da ^^

Gini mang
Ketika kecil, pikiran kita belum terkontaminasi masalah-masalah seperti masalah keluarga, masalah duit, kerjaan, dan lain sebagainya. Dulu mah masalah terbesar itu PR Matematika, sama ga bisa nonton Power Ranger gara-gara ada siaran tinju. Walaupun memang beberapa orang diantara kita mungkin masa kecilnya tidak seindah orang kebanyakan….. (jadi jangan disamaratakan ya).

Istilahnya mah kalo masih anak-anak, pikiran kita masih fresh, masih segar, masih murni. Bebas polusi. Polos.

Nah, sekarang kita akan coba kupas satu per satu, faktor-faktor penyebab mengapa kita tidak bisa menjawab pertanyaan “apa cita-citamu”.

1. Masalah keluarga
Pernah ngga denger ucapan kaya gini
“Ngapain kamu milih kuliah jurusan itu?? Tar susah dapet kerja lho”
“Yakin kamu mau milih jurusan itu? Kaya yang mampu bayar aja….”
“Ah sok-sokan ambil jurusan bahasa asing, bahasa Indonesia aja belum bener”
“Pokoknya kamu nurut aja deh sama orang tua, papa/mama tau yang terbaik untuk kamu, pokoknya kamu harus ikuti kemauan orang tua kalo ga mau durhaka!”

Pernah?

Selamat! Anda masuk ke SATU dari JUTAAN orang yang pernah menerima ucapan “penuh cinta” seperti itu.

Kebayang ngga kalo orang tua sendiri yang bilang gitu?
Sosok yang kita harapkan menjadi panutan dan pendukung di barisan paling depan, justru malah jadi sosok yang paling pertama menjatuhkan mental kita…..

Itu normal ngga sih?
Ya bullshit sih kalo bilang itu “normal”
Yang bener itu NORMAL BANGET

Lha kok normal?
Lebih tepatnya hal sinting yang terlanjur dianggap normal.

Banyak diantara kita yang pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk bercita-cita menjadi suatu profesi, atau ingin melakukan sesuatu yang sesuai dengan minat dan bakatnya, tapi akhirnya harus mengubur dalam-dalam mimpi tersebut karena tidak disetujui oleh orang tuanya.
Potensinya segudang, otaknya cerdas, tapi sayang beribu sayang, sayapnya harus dipatahkan sebelum bisa terbang bebas ke langit luas.

Orang tua di sini bukan sebatas “orang tua kandung” saja, bisa orang tua asuh, atau pihak keluarga orang tua yang mengurus sejak kecil.

Kalau udah urusan keluarga, pastinya kompleks dan bisa bercabang ke mana-mana.
Seorang anak pastinya cuma bisa tersenyum dalam kepahitan kalo udah kaya gini.

2. Masalah duit
Ada yang udah dapet lampu hijau dari orang tuanya, direstui, tinggal jalan aja, tapi terkendala masalah finansial.
Tau sendiri, biaya pendidikan itu setiap tahun akan semakin naik (yang lucu, gaji guru tetep aja jalan di tempat, kalaupun naik, ga sebanding sama kerja kerasnya).
Banyak diantara kita yang ingin sekolah, ga usah pendidikan tinggi lah, wajib belajar 9 tahun aja (SD, SMP) belum tentu semua orang mampu.
Jadi bersyukurlah kalau kita punya orang tua, keluarga, atau para dermawan yang mau berbaik hati berbagi harta dan tenaganya untuk menyekolahkan kita.
Dibandingkan mereka yang hanya bisa tersenyum dalam kepahitan, seraya berkata “Ga apa-apa ga sekolah, yang penting bisa makan”.
Jadi, gara-gara masalah duit, cita-cita bisa mati?
Bisa!

3. Sekolah masih dianggap sebagai “kewajiban sosial
Sekarang mari kita coba tanya sama diri sendiri, apa alasan anda bersekolah?
Gara-gara ga ada kegiatan di rumah?
Pingin mejeng doang biar terkenal?
Cari gebetan terus minta dimodalin buat pacaran?
Supaya ngga dianggap anak bodoh?
Terinspirasi pepatah “rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh”?

Ngga gitu kan?

Setiap orang tentunya punya alasan mengapa bersekolah dan tentunya positif, menuntut ilmu (padahal ilmu ga salah apa-apa), meningkatkan kemampuan, belajar bersosialisasi dan bermasyarakat, menapaki jalan menggapai mimpi dan cita-cita, dan masih banyak alasan mulia lainnya.

Namun, jarang orang yang sekolah karena memang sudah punya bekal berupa niat, cita-cita, dan persiapan yang cukup untuk menapaki jalan menuju masa depan.

Kebanyakan (termasuk saya), sekolah hanya karena tidak ingin malu karena “berbeda” dengan anak-anak lain, tidak ingin dianggap bodoh, atau sekedar mengikuti keinginan orang tua.

Banyak orang yang berbangga diri ketika ditanya “kamu ranking berapa di sekolah?” lalu menjawab “ranking 1”, dianggap siswa berprestasi itu HEBAT (katanya).

Tapi…
Ada yang ga berani bilang
Saya ngga dapet ranking, tapi SAYA MENGUASAI MATA PELAJARAN MATEMATIKA, dan saya ingin JADI SEORANG ILMUWAN!!
Saya ga ranking, biasa aja, tapi SAYA JAGO BERENANG, BASKET, dan VOLI, SAYA MAU JADI ATLET!
Saya memang ga jago matematika, IPA, atau ilmu ekonomi, tapi saya JAGO BAHASA, saya mau jadi PENERJEMAH!

JARANG!

Kalau ada, saya bisa bilang dia hebat, dan orang tuanya juga hebat!
Kok gitu?

Itu artinya anak sama orang tua bersinergi, saling mendukung, tidak saling memaksa, tapi berusaha memahami potensi anaknya.

Cuma memang biasanya yang suka nyinyir itu orang luar kaya tetangga, kerabat, dan lain-lain.

Lucu memang ya….
Kita mah cuma bisa tersenyum dalam kepahitan….


Segitu dulu
Bersambung…

Tag :Cita-cita

  • Artikel (Pengembangan Diri)dari kategori yang sama
    3 Jenis Peserta Training
    3 Jenis Peserta Training(2019-01-08 07:40)

    Komentari

    Nama
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
    Komentar hanya dapat dihapus oleh pemilik Blog!
    削除
    Antara cita-cita dan realita – Tersenyum dalam kepahitan (part 1)
      Komentar(0)